Rabu, 23 April 2014

Pergi

Apabila sampai pada ujung penat tanpa rasa
Akankah ia hendak sirna segera
Ataukah menunggu dalam diam tiada berhingga
Sebagai ujian atas segala doa dan sabar di dada

Silahkan angin menghempasku
Ku izinkan walau tak seberapa
Hanyutkan aku dari sini
Ku tak suka menunggu

Selasa, 14 Januari 2014

Melankolis



Sejenak saat kota kita mengumbar romantisme lagi
Seperti uap keramahan dan rasa hangat yang terbang
Melebur dalam deru nafas tiap hari manusianya
Mengalir selembut angin, seindah bahasa alam

Sudut mata itu berbahasa lagi
Mengumbar setetes kesedihan yang terlalu dalam
Bola mata bulat kecoklatan itu berbicara
Karena ada sebuah tanya dalam jiwa yang mengadu

Ragawi ingin pergi,
Kediaman sukma mendadak berontak
Ketika hanya iman satu-satunya pembendung andal
Ketika hanya kuatnya tali keikhlasan sebagai tempat bergantung

Tulus, ikhlas, ridha
Kata yang terucap tak selamanya sama dalam jiwa
Sebuah ketegaran yang nampak di permukaan
Tanpa kita ketahui kerapuhan yang mengendap di dasar

Kita perlu menjadi karang
Tak banyak bicara
Begitu tenang dan sederhana
Menjadi kokoh di tengah ombak lautan

Kita tak pernah tahu
Begitu dalamnya samudera hidup
Tetapi aku tetap yakin
Kita mampu mengambil mutiara terbaik darinya

Rabu, 01 Januari 2014

Surat Hayati dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck





Pergantungan jiwaku,Zainuddin!


Ke mana lagi langit tempatku bernaung, setelah engkau hilang pula daripadaku, Zainudin.
Apakah artinya hidup ini bagiku kalau engkau pun terus memupus namaku dari hatimu!

            Sungguh besar sekali harapanku hendak hidup dekatmu. Akan berkhidmat kepadamu dengan segenap daya dan upaya, supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa makbul. Supaya dapat segala kesalahan yang besar-besar yang telah kuperbuat terhadap kepada dirimu saya tebusi. Tetapi cita-citaku itu tinggal selamanya menjadi cita-cita, sebab engkau sendiri yang menutupkan pintu di hadapanku: Saya kau larang masuk, sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam kesakitan yang telah sekian lama bersarang didalam hatimu. yang selalu menghambat-hambat perasaan cinta yang suci. Lantaran membalas dendam itu, engkau ambil suatu keputusan yang maha kejam, engkau renggutkan tali pengharapanku, padahal pada tali itu pula pengharapanmu sendiri tergantung. Sebab itu percayalahlah ,Zainudin. bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang, bukan ia menimpa kan kecelaka kepadaku saja, tetapi kepada kita berdua. Karena saya percaya bahwa engkau masih tetap cinta kepadaku.

            Zainudin! Kalau saya tak ada, hidupmu tidak juga beruntung, percayalah!

            Di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya, dan kekayaan itu belum pernah kuberikan kepada orang lain, walaupun kepada Aziz, ialah kekayaan cinta. Saya tahu bahwa engkau kekurangan itu. Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan, dipupuk dengan air mata dan penderitaan. Dan kalau sedianya engkau kabulkan, kalau sedianya engkau terima kedatanganku, saya pun tidak meminta upah dan balasan dari engkau. Upah yang saya harapkan hanya dari Dia, Allah Yang Maha Esa , supaya engkau diberiNya bahagia , dihentikannya aliran air matamu yang telah mengalir sekian lama. Upahku yang kedua, yang saya harapkan daripadaNya, hanyalah supaya saya dapat hidup dekatmu, laksana hidupnya sebatang rumput sarut di bawah lindungan pohon beringin dengan aman dan sentosa, dipuput oleh angin pagi yang lembut gemulai…

            Zainuddin!..Mengapa engkau tak suka memaafkan kesalahanku? Demi Allah! Saya sudah insaf, bahwa tidak ada seorang pun yang pernah saya cintai didalam alam ini, melainkan engkau seorang. Tidak pernah beroleh tenteram diriku setelah aku coba hidup dengan org lain. Orang yang telah mengecewakan hatimu itu, yang sekarang telah insaf dan telah menghukum dirinya sendiri, meskipun dia sanggup memperoleh tubuhku, dia selamanya belum sanggup memperoleh hatiku. Karena hatiku telah untukmu sejak saya kenal akan dikau.

            Kalau sekiranya engkau maafkan kesalahanku,cengkau lupakan kebebalan dan kecongkakan ninik mamakku,kalau…kalu sekiranya maafmu memberi izin mimpimu sendiri terkabul; kalau sedianya semuanya itu kejadian,ecngkau akan beroleh seorang perempuan yang masih suci batinnya, suci jiwanya, belum pernah disentuh orang lain, hatinya belum pernah dirampas orang, yang tidak bedanya dengan ’Permatamu yg Hilang’ dan dengan gadis Batipuh yang engkau cintai dua dan tiga tahun yang lalu, yang gambarnya tergantung di kamar mu!

            Piala kecintaan terletak dihadapan kita, penuh dengan madu hayat nikmat ilahi. Air madu itu telah tersedia di dalamnya untuk kita minum berdua, biar isinya menjadi kering, dan setelah kering kita telah boleh pulang ke alam baqa dengan wajah yang penuh senyuman, kita mati dengan bahagia sebagaimana hidup telah bahagia.Tiba-tiba dengan tidak merasa kasihan, engkau sepakkan piala itu dengan kakimu, sehingga terjatuh, isinya tertumpah habis, pialanya pecah. Lantaran itu, baik saya atau engkau sendiri, meskipun akan masih tetap hidup, akan hidup bagai bayang-bayang layaknya. Dan kalau kita mati, kita akan menutup mata dengan penuh was-was dan penyesalan.

            Apa sebab engkau begitu kejam, tak mau memberi maaf kesalahanku? Padahal telah lebih dahulu bertimpa-timpa azab sengsara ke atas diriku lantaran mungkir ku! Kelihatan oleh matamu sendiri bagaimana saya dan suamiku menjadi pengemis di waktu kayamu, menumpang di rumahmu untuk mmperlihatkan bagaimana sengsaraku lantaran tak jadi bersuami dengan engkau. Hilang…hilang semuanya. Hilang suami yang kusangka dapat memberiku bahagia. Hilang kesenagan dan mimpi yang ku harap-harapkan. Setelah semuanya kuderita, harus kudengar pula dari mulutmu sendiri kata penyesalan, membongkar kesalahan yg lama, yg memang sudah nyata kesalahan, yang oleh Tuhan sendiripun kalau kita bertobat kepadaNya, walaupun bagaimana besar dosa, akan diampuniNya.

            Adakah engkau tahu, hai Zainuddin, siapakah perempuan yang duduk di kamar tulismu kemarin itu? Yang engkau beri kata pediih, kata penyesalan, kata engkau bongkar kesalahannya dan kedosaaannya, yang engkau remukkan jiwanya dengan tiada peduli?

            Perempuan itu tidak lain dari satu bayang-bayang yang telah hilang segenap semangatnya, yang telah habis seluruh kekuatannya, tidak berdaya upaya lagi, habis kekuatan panca inderanya dan perasaannya; matanya melihat, tetapi tak bercahaya, telinga mendengar, tetapi tiada ia  mafhum lagi apa yg didengarnya.

            Yang tinggal hanya tubuhnya,batinnya sudah tak berkekuatan lagi… 

            Inilah dia  perempuan yang engkau sakiti itu. Itulah perempuan yang engkau timbang sengsaranya dan ratapnya. Engkau ulurkan kepadanya tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris pembalasan, mengenai sudut jantungnya, terpancar darah dan akan tetap mengalir sampai sekering-keringnya, mengalir bersamaan dengan jiwanya.. 

            Inilah perempuan yang engkau sakiti itu!

            Tetapi sungguhpun demikian pembalasan yang engkau timpakan ke atas pundakku, kesalahanmu telah ku ampuni, telah kuhabisi, telah kumaafkan. Sebabnya ialah lantaran saya cinta akan engkau. Dan Karena saya tahu bahawasanya yang demikian engkau lakukan adalah lantaran cinta juga. Cuma satu pengharapan yang penghabisan, heningkan hatimu kembali, sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah, ampuni saya, maafkan saya, letakkan saya kembali dalam hatimu menurut letak yang bermula, cintai saya kembali sebagaimana cintaku kepadamu dan jangan saya dilupakan…

            Engkau suruh saya pulang ke kampungku dan engkau berjanji akan membantuku sekuat tenagamu sampai saya bersuami pula.

            Zainudin! Apakah artinya harta dan perbantuan itu bagiku, kalau bukan dirimu yang ada dekatku? 

            Saya turutkan permintaan itu, saya akan  pulang .Tetapi, percayalah Zainudin bahwa saya pulang ke kampungku, hanya dua yang ku nantikan: pertama kedatangan mu kembali, menurut janjiku yang bermula, yaitu akan menunggumu, biar berbilang tahun,biar berganti musim. Dan yang kedua ialah menunggu maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya bergantung di awang-awang itu.

            Selamat tinggal, Zainudin! Selamat tinggal, wahai orang kucintai di dunia ini! Seketika saya meninggalkan rumah mu, hanya namamu yang tetap jadi sebutan ku. Dan agaknya kelak, engkaulah yang akan terpatri dalam doaku, bila saya menghadapTuhan di akhirat…

            Mana tahu, umur di tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau ziarah ke tanah pusaraku, bacakan doa di atasnya, tanamkan di sana daun puding panca warna dari bekas tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa di sanalah terkubur seorang perempuan muda, yang hidupnya penuh dgn penderitaan dan kedukaaan dan matinya remuk rindu dan dendam..

            Mengapa suratku ini banyak membicakan mati? Entahlah, Zainudin, saya sendiri pun heran, seakan-akan kematian itu telah dekat datangnya. Kalau ku mati dahulu daripadamu,  jangan engkau berduka hati, melainkan sempurnakan permohonan doa kepada Tuhan, moga-moga jika banyak benar halangan pertemuan kita di dunia, terlapanglah pertemuan kita di akhirat, pertemuan yang tidak akan diakhiri lagi oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi manusia…

            Selamat tinggal, Zainudin, dan biarlah penutup surat ini ku ambil perkataan yg paling enak ku ucapkan di mulut ku dan agaknya entah dengan  itu ku tutup hayatku di samping menyebut kalimat syahadat, yaitu : Aku cinta akan engkau, dan kalau ku mati, adalah kematianku di dalam mengenangkan engkau…”
                                                                                                 
                                                                                              .Sambutlah salam dari:
                                                                                                            Hayati       

Selasa, 31 Desember 2013

Luishe dan Cinta di Perempatan Tugu







Gemericik air yang turun dari atap ke pelimbahan belum juga berhenti sejak hujan berhenti sejam yang lalu. Bising suara kendaraan yang lalu lalang di sekitar menambah ramai suasana sore itu. Padahal masih pukul lima sore, tapi langit nampak lebih gelap dari biasanya. Tapi tak berarti sore kali ini tidak ditutup dengan persembahan terakhir sang matahari di senja terakhir di tahun 2013 ini. Meskipun mendung kelihatan pekat, pias-pias cahaya keemasan dari sang surya mampu memancar dengan kuat menembusnya. Lebih terlihat seperti pilar-pilar yang menompang langit agar tak runtuh menimpa bumi. Keelokannya menambah kesegaran suasana kota sehabis diguyur hujan.
Samar-samar ku dengar kumandang azan mengalun dari speaker-speaker masjid di sekitarku. Jenis suaranya beraneka ragam. Bisa ku tebak, dari sisi kananku suaranya agak berat dan serak, sepertinya itu bapak berpostur gagah dengan kain sarung yang melilit di pinggangnya setinggi mata kaki, berpakaian muslim pas badan, dan peci putih bundar seperti orang-orang yang pulang haji. Dan dari sisi depanku suaranya cempreng dan serawutan. Bahkan ku dengar juga suara tawa beberapa orang di sekitarnya. Itu pasti suara anak kecil berpakaian muslim kedodoran, dengan sarung yang dililitkan serampangan, dan peci yang dipakai agak miring. Tentu ia anak yang baru bisa baca doa makan atau bahkan belum fasih mengucap bismillah.
Di sebuah kota kecil, yang belakangan ku dengar bernama Kota Madiun, dua tahun yang lalu aku terlahir sebagai seekor kucing. Sebelum terlahir di dunia, aku sempat berdiskusi dengan Penciptaku tentang wujudku saat di dunia. Penciptaku memberiku berbagai pilihan, mulai dari makhluk dengan tingkat kecerdasan tinggi berjulukan manusia, lalu burung, pohon, sapi, anjing, lebah, bunga, kotoran, awan, angin, kaos kaki bau, kentut, cicak, dan masih banyak pilihan lainnya. Dan aku memilih menjadi kucing. Entah mengapa, tapi dari sini – tempat Penciptaku tinggal – aku sering mendengar bahwa manusia gemar memelihara kucing.  Merawatnya dengan memberinya makan dan minuman tanpa harus bekerja. Apalagi di dunia terkenal dengan beberapa jenis kucing mahal seperti anggora dan Persia.
Penciptaku pun menyetujuinya. Aku terlahir sebagai seekor kucing.
Aih, ku pikir aku akan lahir dari seekor induk anggora atau Persia yang terawat dan tinggal di gedong-gedong dengan sejuta fasilitas seperti yang aku lihat di tempat Penciptaku. Mau makan atau minum apa saja sudah ada yang meladeni. Mau ikan ada. Mau makanan kucing bermerek ada. Mau susu ada. Bahkan mau seekor tikus pun ada yang mau menangkapkan. Alih-alih mendapat fasilitas itu, kenyataannya aku tidak lahir dari induk kucing impor itu. Aku anak kucing kampung yang kurus dan kotor. Terlebih lagi aku tak sendirian, tapi aku punya lima ekor saudara sekaligus! Kami lahir dalam sebuah kardus dekat bak sampah di belakang pertokoan. Kalau tak hati-hati, kami akan jatuh ke sungai di dekat kami. Alhasil, di tempat seperti ini kami harus berbagi tempat, makan, dan tidur.
Nasib malang tak hanya itu rupanya. Beberapa hari kemudian, ibuku mati terlindas mobil yang lewat di depan pertokoan. Tubuhnya hancur tak berbentuk lagi. Gepeng sampai isi perutnya keluar semua. Tubuhnya pun dibuang ke sungai oleh beberapa orang yang tak tahan dengan penampakan menjijikkan itu. Tak lama setelah itu, satu persatu saudaraku mati. Mereka kelaparan karena tidak ada lagi yang memberinya suplai makanan, tubuhnya menyusut makin kurus kering. Sembilan nyawa tak menjamin untuk hidup lama. Kini tinggal aku seekor yang masih hidup. Aku putuskan untuk pergi dari tempat itu dan mencari sumber kehidupan baru. Menyusuri deretan ruko, mall, masjid, gereja. Tak peduli panas atau hujan.
Sampai tibalah aku di sebuah perempatan. Perempatan Tugu namanya. Aku sampai di pusat kota, di nol kilometer Kota Madiun. Hari ini Madiun tak seperti kota kecil biasanya. Semakin malam semakin ramai. Semua warga tengah menanti malam pergantian tahun dengan mengadakan serangkaian acara di luar rumah. Makan-makan, nonton konser music, atau nonton film di bioskop – aku sendiri tak tahu seperti apa itu film dan bioskop. Warga mulai anak-anak sampai orang dewasa seakan tak pernah berhenti beraktivitas malam ini.
Di seberang sana aku lihat sebuah warung yang menyajikan menu seafood. Bau ikan tercium olehku. Aku lapar, tapi sepertinya tak punya cukup tenaga untuk ke sana. Langkahku semakin berat. Ku pikir dengan memiliki empat kaki akan lebih mudah.
Suaraku semakin lemah.
“Meeong.. Meew.. ong..”
Tak satu pun manusia peduli, entah karena suaraku yang tak mereka dengar atau mereka terlalu jijik dengan penampilanku ini.
Nafasku mulai tak teratur. Warungnya sudah dekat, tinggal menyeberang perempatan ini. Tapi pandanganku mulai tak jelas. Suaraku semakin kacau.
“Mee…ooo..ong..Meew..oo..ng”
Ku lihat bayangan ibu dan kelima saudaraku yang mati tragis. Oh, ini terlalu singkat. Aku tak ingin mati muda, Penciptaku!
Tiba-tiba tubuhku rasanya melayang. Ya, inilah waktunya. Penciptaku mencabutku secara perlahan. Tapi…
“ Ya ampun, kucing lucu begini kok ada di luar. Puss.. Puss..”
“ Waa, kamu jantan ya? “
Rupanya ada yang menggendongku. Seorang gadis. Cukup dewasa dari beberapa gadis berkerudung yang baru pulang dari masjid yang biasanya lewat di depan pertokoan tempat tinggalku dulu. Tangan halusnya tak ragu untuk sekedar membelai dan membersihkan bulu-buluku yang kusam dan bau. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Ia juga mengenakan kacamata. Ia adalah manusia cantik yang baru aku temui selama aku hidup di kota ini. Cantik menurut ukuran seekor kucing pastinya.
Ia tak sendirian. Ada seorang anak laki-laki yang kelihatan lebih muda darinya. Rambut dengan gaya seperti yang ku lihat di televisi di toko-toko yang aku lewati. Memakai kaos dan celana jins. Ia sedang membawa sesuatu di tangan kanannya. Tangan kirinya tengah memegang dua terompet. Mungkin untuk perayaan tahun baru.
“Mbak, kucingnya kotor. Udah lepasin, ayo kita pulang!”
“Duh, lucu banget ini. Kelihatan lapar, badannya kurus. Digowo bali wae.”
Mereka kakak beradik rupanya. Rupanya mereka baru saja dari seberang membeli kue dan hendak pulang. Sang kakak lah yang rupanya mendengar suaraku.
Setelah terjadi perdebatan kecil di antara mereka, sang kakak yang bersikukuh membawaku pulang dan sang adik yang tidak suka dengan penampilanku, akhirnya aku dibawa pulang ke rumah mereka. Tak tanggung-tanggung, aku direkrut menjadi hewan peliharaan gadis itu juga. Akhirnya Penciptaku mendengar apa yang aku inginkan selama ini.
Hari ini, di malam pergantian tahun ini, aku bertemu dengannya. Manusia baik hati nan cantik yang sudi mengangkatku sebagai hewan peliharaannya.


Sudah hampir setahun aku tinggal di rumahnya. Oh ya, gadis itu Dinda namanya. Ia tinggal berdua dengan David, adiknya. Dinda gemar memelihara kucing rupanya. Ya, saat pertama kali aku ke sini, aku sudah disambut oleh tiga ekor kucing peliharaannya. Kucing anggora putih bernama Keishe dan Meishe, dan seekor kucing kampung sepertiku bernama Duishe. Dan sejak saat itu juga, aku resmi menyandang nama baru, Luishe. Dan sang adik sendiri memilih memelihara beberapa mobil mainan. Mengoleksi lebih tepatnya.
Di rumahnya juga, segala kebutuhanku setidaknya terpenuhi. Setiap hari aku diberi makanan khusus kucing seperti kepingan kue kecil yang bentuknya seperti ikan. Bahkan hari pertama aku disini, aku makan tikus dari tetangga yang membuangnya di dekat rumah Dinda.
Dari keempat kucing yang dipelihara Dinda, mungkin aku yang bernasib kurang beruntung. Dimulai dari Keishe yang menceritakan masa lalunya sebelum dipelihara Dinda.
“ Meong.. Dulu aku tinggal di sebuah kondominium di sebuah kota yang jauh banget. Majikanku seorang pengusaha besar yang mengurus masalah ekspor impor di negara kita. Aku juga sering diajak keliling ke beberapa negara. Kalian tahu Menara Pisa? Colloseum? Tembok Besar Cina? Aku sudah pernah kesana.”
Meishe, kucing anggora satunya tak mau kalah.
“ Meong.. Kalau aku pernah tinggal lama di Amerika. Kalian tahu negara itu kan? Ya, disana aku bisa rasain empat musim sekaligus. Kalian pasti belum pernah ngerasain salju kan. Meong..”
Duishe, walaupun jenisnya sama sepertiku, setidaknya dia lebih beruntung untuk ukuran kucing kampung yang biasa tinggal di gang-gang sempit atau himpitan rumah-rumah kumuh.
“ Meong.. Duishe dulu tinggal di rumah makan yang penuh dengan ikan dan daging. Meong..”
Hey, walaupun begitu entah mengapa dari keempat kucing yang Dinda miliki, akulah yang sering dibawanya kemanapun. Ya meskipun semua kucing secara bergiliran pernah dibawanya pergi, tapi menurut perhitunganku, dalam sebulan ini sudah sepuluh kali aku dibawanya. Melampui rekor Keishe yang menurutku lebih lucu dan, ehm.. pantas.
Pernah suatu ketika teman Dinda bertanya.
“ Din, perasaan lu punya kucing anggora deh. Kok lu malah sering bawa kucing kampung kayak gini sih? Iih…“
Ehm, pertanyaan itu cukup membuatku tersinggung. Tapi sebagai kucing peliharaan Dinda, tak mungkin aku tiba-tiba melompat dan mencakar wajahnya. Sabar Luishe. Tetap anggun dan tenang. Aku hanya bisa tetap diam bermanja-manja di pangkuan Dinda dan menampilkan tatapan mata yang lucu yang ingin dimanja.
Eits, Dinda tentu tak tinggal diam.
“ Ah, emang kenapa? Aku paling suka sama kucing ini. Gak tau kenapa. Hati kita udah pas mungkin. “
Tunggu dulu! Apa yang baru saja Dinda katakan? Dia suka sama… Aku?
Tidak tahu ini wajar atau tidak, tapi aku sebagai seekor kucing kampung yang pernah hampir mati di malam tahun baru ternyata bisa merasakan seperti ini. Kucing bisa jatuh cinta rupanya. Bukan pada sesama kucing, tetapi pada seorang manusia. Seorang gadis anggun nan baik hati bernama Dinda.
Dinda… D-i-n-d-a…
Seharian ini nama itu yang sering ku sebut dalam pikiranku. Mengejanya tanpa henti. Aku juga berpikir dapat bertemu dengannya dalam sosok lain yang lebih layak. Aku menjadi seorang pemuda ganteng yang gagah dan berpenampilan seperti cowok masa kini, mengajak Dinda untuk berkencan di sebuah kafe di Plaza Madiun. Memesan seporsi ikan bakar untuk kita makan berdua dan dua gelas susu. Lalu kami menikah, dikaruniai anak-anak yang tampan dan cantik, lalu hidup bahagia selamanya. Atau Dinda yang menjadi kucing kampung sepertiku. Lalu ku ajak Dinda pergi berkencan dari satu warung makan ke warung makan lain. Makan ikan tentunya. Lalu kami beranak pinak dan hidup bahagia sebagai keluarga kucing kampung. Wuih..
“ Apa? Dinda? Kamu suka Dinda?” kata Duishe yang tiba-tiba, mengagetkanku.
“Heh? Apa? Apa? “ kataku.
Aku sendiri kaget saat Duishe tiba-tiba muncul dan mengetahui apa yang aku pikirkan.
“ Sadar dong. Kamu siapa, Dinda siapa. Kalian gak bakal bisa bersama. Ngerti? “ Kata Duishe. Lalu Duishe meninggalkanku sendirian.
Benar juga kata Duishe. Kita nggak bisa hidup bersama layaknya sepasang manusia atau sepasang kucing yang saling mencintai.
Tapia apa salahnya memendam rasa cinta dan suka ini?

­
Pagi itu, rumah Dinda kelihatan lebih ramai. Bukan karena kami para kucing yang membuat kegaduhan. Tetapi kami kedatangan tamu. Seorang tamu dengan seekor anjing. Anjing? Demi apa rumah Dinda yang seperti surga bagi kami ini kedatangan seekor hewan musuh bebuyutan kami bangsa kucing! Tamu itu saudara Dinda yang lama tinggal di luar kota dan akan menetap di rumah Dinda. Dan itu artinya, kami akan berbagi tempat dengan anjing itu.
Awalnya kami cukup berbesar hati menerima keberadaan anjing itu, yang belakangan kami ketahui bernama George. Tapi kami mulai sedikit…ya sedikit tidak suka dengannya semenjak sebuah peristiwa di suatu sore saat Dinda dan Dandy, saudaranya itu akan pergi jalan-jalan dengan mengendarai mobil. Sejak saat itu mereka sepakat hanya membawa George saja, karena tidak mungkin kucing dan anjing di tempatkan dalam satu mobil. Itu juga karena Dinda yang tidak enak hati pada Dandy.
Sore itu juga, Keishe sebagai tetua peliharaan di rumah Dinda mengumpulkan kami di ruang dapur membahas masalah ini.
“ Meong.. Ini tidak bisa dibiarkan. Kedudukan kita sebagai hewan kesayangan Dinda bisa terancam dengan keberadaan George di rumah ini, “ kata Keishe sambil mencakar-cakar lantai.
“ Iya, aku sependapat. Suplai susu untuk kita juga berkurang, karena harus dibagi dengan George. Ya walaupun nggak setiap hari juga, sih. Meong… “ kata Duishe.
Meishe yang sedari tadi bermain-main dengan gulungan benang wol datang menghampiri kami dan berkata, “Kita harus melakukan sesuatu. George dan Dandy harus segera keluar dari rumah ini. Meong.. Ada usul bagaimana cara mengusir mereka?”
“ Sepertinya aku belum mendapat ide, bagaimana dengan kalian? “ kata Keishe.
“ Meong… Aku belum ada,” kata Duishe.
“ Aku juga belum ada, Meong..“ kata Meishe.
Mereka mondar-mandir sambil memutar bola mata mereka kesana kemari. Dan mereka berhenti, di depanku. Menatapku yang sedari tadi hanya duduk diam memandang mereka.
“Luishe, mungkin kamu ada ide cemerlang? Meong.. Ayolah, demi kelangsungan hidup kita di rumah Dinda. “ kata Meishe kepadaku.
“Ehm.. Meong… Aku sendiri juga belum memikirkannya, kawan.” Kataku.
Aku sendiri lebih senang memikirkan Dinda yang sedang berjalan-jalan. Hmm, biasanya aku yang diajaknya berjalan-jalan di mall. Melewati beberapa toko baju dan sepatu kesukaannya. Lalu diajak mampir makan. Kemudian aku diajak ke pet shop untuk merawat tubuhku. Perasaan yang tak biasa antara kucing dengan majikannya. Oh, Penciptaku. Rupanya ini rahasia mengapa aku dilahirkan dari seekor induk kucing kampung yang hidup di bak sampah pertokoan. Inilah mengapa saat itu ibu dan kelima saudaraku satu persatu mati. Inilah mengapa aku ditempatkan pada Perempatan Tugu saat malam tahun baru itu, hanya untuk bertemu Dinda. Untuk merasakan waktu-waktu berlalu bersamanya. Untuk merasakan perasaan yang tidak wajar dan membuatku susah tidur. Oh Penciptaku! Sayangnya perasaan itu terhalang dalam posisi kami yang tidak memungkinkan. Tidak mungkin ada hubungan yang lebih serius di antara kami selain kucing dan majikannya. Selain peliharaan, tidak ada status yang lain.


Pagi itu kami melakukan diskusi lagi.
“ Meoong!!! Apa-apaan ini! Dinda akan membuang salah satu dari kita demi seekor anjing itu? Tidak bisa dibiarkan ini. “ Meishe kelihatan sangat geram dan marah.
Rupanya masalah finansial yang terjadi di rumah Dinda penyebabnya. Harga susu dan makanan kucing yang semakin mahal. Terlebih lagi menyediakan susu tambahan dan makanan anjing untuk George. Dinda, David, dan Dandy sebelumnya telah membicarakan masalah logistik peliharaan di rumah mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk memilih hewan peliharaan mana yang tetap dipertahankan. Bukan secara langsung dibuang ke tempat sampah atau ke pasar. Tapi di jual atau diberikan pada orang lain. Tapi tetap saja ini tidak adil untuk kami bangsa kucing.
Kami para kucing pagi itu tak sengaja mendengar percakapan mereka.
“ Kak Dinda, kucing kakak kan udah besar-besar. Yang anggora dijual masih laku lo, kak. Oh ya, temen-temenku juga ada yang hobi pelihara kucing di rumahnya. Bisa tuh dikasih ke temen-temen David, “ kata David memberi usul pada diskusi mereka bertiga itu.
Dinda menolak dengan keras, “Hush, enak aja! Aku sayang banget sama mereka. Kamu tau kan, aku mulai pelihara kucing sejak aku kecil. Aku juga sering bawa mereka kemanapun aku pergi.”
“ Kalau George nggak mungkin deh. Soalnya ini sebenarnya punya adikku. Dia nitipin ke aku selama dia pergi ke luar negeri, “ kata Dandy yang menurutku semakin memperpanas keadaan kami.
Dan Dinda yang tampak pasrah dan kelihatan tidak enak hati mempersalahkan Dandy dan George menjawab, “Ya sudah, terserah kalian saja mana yang terbaik. “
Alhasil, kami langsung pergi menuju ruang rahasia. Gudang perabotan bekas rumah Dinda menjadi ruang yang cukup rahasia untuk kami berdiskusi.
Keishe sebagai tetua memulai diskusi.
“ Kalau begini terus, mau tidak mau kita harus melakukan serangan pada Dandy dan George. Mereka harus kita buat tidak nyaman tinggal disini.”
“ Meong.. Tapi gimana kalau kita yang ternyata disalahin dan akhirnya kita semua dibuang?” Tanya Meishe.
“ Meong, manusia sama saja rupanya. Kalau suka dipuja-puja, kalau sudah tak suka dibuang begitu saja. Meong..” Duishe menyahut.
Meninggalkan Dinda? Terdengar seperti mimpi buruk buatku. Aih, jangan sampai pisahkan kami, Penciptaku. Aku tak mau kembali hidup di dalam kardus belakang pertokoan. Aku tak mau terlunta-lunta dan mati kelaparan seperti kelima saudaraku dulu. Aku tak mau sekarat dan hampir mati kelaparan seperti waktu malam tahun baru di Perempatan Tugu itu.
“ Luishe? Luishe? Hey, apa kamu setuju?” Tanya Duishe mengagetkanku.
“eh, ya apa? Setuju apa?” tanyaku.
“ Jadi begini. Kita akan melakukan serangan besar-besaran ke Dinda, David, Dandy, dan George tentunya. Tujuannya ya bikin Dandy dan George nggak betah tinggal disini dan menyadarkan Dinda dan David kalau kita masih layak tinggal disini. Gimana?” kata Meishe.
Aku terdiam. Sebenarnya aku suka dengan rencana ini. Mengusir Dandy dan George. Tapi aku tidak setuju jika harus melibatkan Dinda sebagai salah satu target korban serangan kita. Aku tidak mau Dinda terluka. Tidak.
“Jangan bilang kamu masih suka sama Dinda!” kata Duishe tiba-tiba.
“ Luishe! Berani kamu melakukan hal terhina seperti itu. Apa kamu tidak dengar apa yang akan Dinda lakukan pada kita. Dasar bodoh kamu! “ kata Keishe yang kelihatan sangat marah.
“ Sudah. Begini saja. Aku tak mau tahu tentang cinta bodohmu pada Dinda itu. Yang penting kita akan menyerang mereka nanti malam saat mereka tidur. Jadi mulai persiapkan mental dan tubuh kalian. Oke?” kata Meishe yang juga mengakhiri pertemuan kami kali ini.
Tidak. Jangan Dinda menjadi korban juga. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku yang paling muda disitu setidaknya harus patuh pada yang lebih tua. Kucing juga punya adab seperti manusia.


Pukul sebelas malam tepat kami berkumpul di dapur. Mempersiapkan penyerangan besar-besaran kami. Sebelumnya kami mengadakan semacam makan bersama di kandang milik Keishe. Penyerangan kali ini tidak boleh gagal sedikitpun. Target kami tetap Dandy dan George. Besok pagi mereka harus keluar dari sini.
Tapi tidak adil rasanya kalau Dinda juga harus ikut menjadi korban.
Sebelum penyerangan dimulai, Keishe berkata pada kami.
“Demi kelangsungan hidup dan kebutuhan kita di rumah Dinda, mari kita rusak ketentraman hidup Dandy dan George malam ini. Mereka berdua harus pergi besok pagi!”
Kata-kata Keishe barusan hanya kami tanggapi sebagaimana kucing biasanya.
“Meong.. Meong.. Meong…”
Malam itu, Dinda, David, Dandy dan George tidur di ruang tengah. Mereka kelelahan karena habis nonton film di bioskop. Dinda, David, dan Dandy tidur berjajar di atas kasur yang sengaja mereka siapkan di ruang itu. George tidur di dekat pintu.
Kami pun berbondong-bondong pergi ke ruang tengah. Mata kami cukup bisa diandalkan dalam suasana gelap rumah Dinda malam itu. Mengendap-endap secara perlahan. Hingga akhirnya kami sampai di ruang tengah.
Ku lihat Dinda tidur di samping David. Rambut panjangnya tergerai menutupi bahu dan dadanya. Saat tidur ia kelihatan lebih cantik, terlebih karena ia tak memakai kacamatanya. Tak sampai hati sebenarnya aku menyerang Dinda. Dan jika bisa aku memilih, aku harusnya datang menghampirinya dan membangunkannya. Menyelamatkannya dari serangan membabi buta para kucing peliharaannya.
Tap.. Tap.. Tap..
Perlahan kami berjalan, kami berpencar di setiap sudut ruang itu. Aku sedikit gugup saat melewati George. Anjing diberkahi penciuman serta pendengaran yang tajam. Dan itu terbukti. George terbangun.
“Guk.. Guk.. Guk..” gonggongan George memecah keheningan malam. Dinda, David, dan Dandy sontak terbangun.
“Serbu!!!!” Kata Keishe..
“Meong.. Meong… Meong…” sahutku, Meishe, dan Duishe.
Kami berpencar, lari kesana kemari. Naik sofa, naik televisi, mengobrak-abrik isi lemari, memecahkan guci, menabrak kesana kemari. George juga ikut lari kesana kemari mengejar kami. Tapi dia kalah jumlah. Dan tak ada satupun dari kami yang mampu ia tangkap.
“ Maling!!! Maling!!!” teriak Dandy ketakutan.
“Hidupin lampunya!” kata David.
“ Mati lampu! Ini bukan maling, kucing-kucingmu menggila! “ teriak Dandy lagi.
Dinda yang ketakutan langsung membuka pintu rumah. David dan Dandy mengambil tongkat golf untuk memukul mundur kami. Aku dan ketiga kawanku cukup terdesak. Tapi kami berhasil menyerang Dandy, mencakar kaki kanannya sampai berdarah. Dan..
Bugh! Bugh! Bugh!
Tubuhku terkena pukulan tongkat golf dari Dandy. Tak hanya itu.
Bugh! Bugh! Bugh!
Tongkat David juga telak memukul kepalaku sampai agak pusing. Tubuhku yang kecil setidaknya mampu kesana kemari dan cukup kuat ternyata menghadapi pukulan itu.
“ Luishe, bawa mereka keluar!” teriak Keishe.
Aku pun menuju keluar rumah. Dandy dan David masih mengejarku sambil membawa tongkat golf. Dinda juga mengikuti dari belakang. George masih sibuk mengurusi ketiga temanku.
Kecepatanku makin ku tambah saat ku lihat Dandy semakin cepat berlari. Dandy? Lalu dimana David dan Dinda?
Ternyata mereka mengambil jalan pintas untuk menghadangku di depan. Aku terdesak, tubuhku entah sedikit lelah. Namun secara tidak langsung aku berhasil membawa Dinda agar tak ikut menjadi korban ketiga temanku. Nah, sekarang tugasku menyelesaikan Dandy. Ada persimpangan jalan di depan sana. Akan aku bawa ia kesana, biar Dandy tertabrak.. Haha
Dengan lihai aku hindari pukulan David dan Dandy. Dandy yang terpancing emosi mengejarku dengan cepat. Dan Dinda mengikutiku di depan Dandy. Dan tibalah kami bertiga di persimpangan jalan itu. Ku dengar truk berjarak 100 meter melaju dari belokan menuju ke arah ini. Dan pas di jalan itu ada Dandy dan… Tunggu! Tak seharusnya Dinda disana.
Hingga akhirnya..
Brugh..
Dinda tertabrak truk yang melaju sangat kencang itu. Tubuhnya terlempar beberapa ratus meter dari tempat tabrakan. Kepalanya mengeluarkan banyak darah. Dandy juga ikut tertabrak, tapi dia tak separah Dinda.
Dan beberapa menit kemudian, Dinda meninggal.


Malam tahun baru kali ini aku hanya ingin tidur saja. Di tempat pertama kali aku dan Dinda bertemu, di Perempatan Tugu Kota Madiun. Menikmati indahnya malam pergantian tahun dan langit yang masih dinaungi mendung. Dan akupun tertidur pulas.

Malam itu aku bermimpi. Tiba di sebuah tempat yang sejauh mata memandang, hanya warna putih yang terlihat. Damai, tentram, dan penuh cinta.
“Dimana aku?”
Dan tiba-tiba ku dengar suara seorang gadis yang pernah ku kenali suaranya.
“Dinda?” kataku.
Dan dari
“Iya, ini Dinda Luishe. Apa kabar? Ayo ikut aku jalan-jalan.”
Dan tangannya pun menggandeng tanganku. Kami berjalan-jalan saat itu, sebagai sepasang kucing. Mari, Dindaku. Kita susuri Kota Madiun malam ini. Singgah di Perempatan Tugu, tempat kita pertama bertemu seperti malam perayaan tahun baru saat itu.

Selasa, 24 Desember 2013

Sepi - Sepi yang Termakan Sendiri

Usah kau berpikir sedikit
Hal ini yang sepele untuk diadu
Karena ku tahu dan merana
Sepi-sepi yang ku makan sendiri

Tinggalkan saja aku di halte
Kau hanya perlu naik bis yang benar
Biar ku cari bis-bis lain
Apapun agar ku tak berbagi ruang denganmu

Lari saja ke arah timur
Dimana gunung berkediaman, naik ke puncaknya
Agar ku usah pergi menjauh, karena kau jauh
Hingga kita sama-sama termakan lupa

Bukan sesal, tapi muncul kecewa
Semua tak mendekat atau bertuan olehku
Lebih baik semua jauh, menjauh saja tak usah terharap
Harapan besar yang tak pernah bertenaga untuk nyata

24 Des 2013
Dalam kamar, dingin padahal tidak hujan

Sabtu, 21 Desember 2013

Umur

Seiring bertambah angka hidupmu
Semakin dekat nyawamu pada perbatasan jalan
Lilin hanya sebuah simbolisme saja
Kepada-Nya kita tetap harus berserah


Ibarat kamu tercipta untuk turun ke bumi
Jangan kau lepas waktu dan tempat begitu saja
Apalagi lupa hakikatmu tuk bermanfaat
Agar tak hanya namamu yang akan terkenang

Tentang dunia dengan berani
Sewajarnya hidup penuh uji
Perlu tegak tegar dan tegas
Karena dunia tak kenal belas kasih

Sesaat lagi kan sampai di persimpangan
Bercabangnya jalan kita masing-masing
Persiapkan bekal dan pelita
Karena itu lebih murka dan gelap dari yang terkira

Lihat cahaya putih di sana!
Tak perlu gusar, kawan
Berdoa dan berani itu sudah cukup
Tetap melangkah saja

Usah kau terlalu ingin bertemu
Karna Tuhan tahu kapan kita searah lagi

Untuk ulang tahun kawan
Tulisan yang terlambat
MD dan GL

Terucap

Masih aku lihat berlian itu
Terpancar dari sudut-sudut mata coklatmu
Saat bias cahaya matahari menari-nari di kediaman senja
Aura bahagia dan semangat, hanya itu yang terpancar darinya

Semua bisa hidup sampai 1000 tahun lamanya
Aku, kamu, mereka, manusia
Bermacam hal terjadi begitu saja
Dalam keterbatasan diri menerima segala memori

Tapi jika ada hal bahagia selama 1000 tahun itu
Akan aku pilih detik yang berharga itu
Bukan cuma satu, berdetik-detik
Karena persahabatan kita mampu melewati semua

Sering hadirmu terlewat oleh yang lain
Saat aku jatuh cinta, terkadang ku tinggal dirimu yang masih sendiri
Tetap terima kasih akan terucap
Mengerti dan tetap menungguku sebagai sesosok sahabat

Terucap terima kasih
Untuk tangan, pundak, dan semangat