Pah.. Mah..
Maaf liburan ini Rozi jarang di rumah :'(
Rozi pengen seperti temen-temen yang lain,
Bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.
Pah.. Mah..
Maaf, waktu sebulan habis tak bersisa
Rozi terlalu menghabiskan waktu untuk mengurus acara ini
Seharusnya Rozi membatasi waktu untuk Rozi sendiri
Seharusnya Rozi seperti temen-temen yang lain
Yang kadang gak terlalu disibukkan dengan hal ini
Pah.. Mah..
Maafin Rozi..
:'(
Sabtu, 24 Januari 2015
Selasa, 13 Januari 2015
Melodia (1)
Apa kabar sebuah hati
Ketika keutuhannya terpotong-potong di malam itu
Ketika ketegarannya dipertanyakan oleh manusia
Bagaimana aku harus menjawabnya?
Suara, tangis, perpecahan.
Ketika keutuhannya terpotong-potong di malam itu
Ketika ketegarannya dipertanyakan oleh manusia
Bagaimana aku harus menjawabnya?
Suara, tangis, perpecahan.
Malam (2)
Ajari aku melipat rinduku dengan rapi, sayangku
Lebarnya memang tak terkira
Kusut karena masa yang ku lalui tanpamu
Tak perlu kau beri wewangian
Semerbak wanginya telah memenuhi istana hatiku
Potretmu terbingkai rapi di dinding kamarku
Sebagai permataku
Lebarnya memang tak terkira
Kusut karena masa yang ku lalui tanpamu
Tak perlu kau beri wewangian
Semerbak wanginya telah memenuhi istana hatiku
Potretmu terbingkai rapi di dinding kamarku
Sebagai permataku
Rumah (1)
Kembali pulang ke rumah membuatku berkaca-kaca. Campur aduk antara rindu dengan kenyataan yang aku lalui sekarang. Siapa yang tak rindu dengan rumahnya, keluarganya, dengan segala tingkah laku dan bermacam bentuk kasih sayang di dalamnya. Siapa yang tak rindu dengan rumahnya, yang tak melulu menyajikan kehangatan orang tua pada anaknya, kakak pada adiknya, tapi juga berbagai cerita-cerita di dalamnya.
Aku pulang sebagai anak dan status baruku sebagai mahasiswa. Waktuku tak banyak, hanya satu bulan aku pulang. Sanggupkah sang waktu mengobati rasa rinduku? Atau aku sendiri yang harus membangunkan sang waktu?
Bapak... Ibu...
Anakmu akan tiba di rumah. Anakmu akan segera mencium tangan dan pipimu.
Anakmu akan kembali..
Aku pulang sebagai anak dan status baruku sebagai mahasiswa. Waktuku tak banyak, hanya satu bulan aku pulang. Sanggupkah sang waktu mengobati rasa rinduku? Atau aku sendiri yang harus membangunkan sang waktu?
Bapak... Ibu...
Anakmu akan tiba di rumah. Anakmu akan segera mencium tangan dan pipimu.
Anakmu akan kembali..
Minggu, 21 Desember 2014
[...]
Mungkin mengasyikkan ya jika kamu pergi mencari keasyikkanmu sendiri. Tapi tak pernah kamu sadari, ada seseorang di sini yang ingin berbagi keasyikkan denganmu.
Kata
Tuhan, bila ada orang lain
Segerakan Kau kirimkan ia
Pandu menujuku
Bantu ia dengan segala isyarat, tanda
Tuhan, bila ada orang lain
Selamatkan aku
Dari dalamnya sepi, kecewa
Gersang kerontang
Jangan jadikan sendiri ini abadi
Aku ingin bersamanya
Segera
Segerakan Kau kirimkan ia
Pandu menujuku
Bantu ia dengan segala isyarat, tanda
Tuhan, bila ada orang lain
Selamatkan aku
Dari dalamnya sepi, kecewa
Gersang kerontang
Jangan jadikan sendiri ini abadi
Aku ingin bersamanya
Segera
Sabtu, 29 November 2014
Selamat Ulang Tahun
Saya tidak pandai membuat kata-kata yang bagus. Apalagi untuk kamu, sama sekali saya tidak tahu selera kamu seperti apa (haha). Tapi saya punya satu prosa bagus tentang arti bertambahnya usia. Lewat prosa ini semoga kamu bertambah bijak di usiamu yang ke-19 tahun ini.
Jembatan Zaman
Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segala.
Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Namun masih ingatkah ia dengan sepetak tanah mungil waktu masih kerdil dulu? Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan kereta raksasa dan setetes embun seolah bola kaca dari surga, tatkala ia tak peduli akan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik?
Waktu kecil dulu, kupu-kupu masih sering hinggap di pucuknya. Kini burung besar bahkan bersangkar di ketiaknya, kawanan kelelawar menggantungi buahnya. Namun jangan sekali-kali ia merendahkan kupu-kupu yang hanya menggeliat di tapaknya, karena mendengar bahasanya pun ia tak mampu lagi.
Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu.
Dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil atau yang digejolakkan anak belasan tahun seiring dengan kecepatan zaman yang melesat meninggalkan? Karena kita tumbuh ke atas tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.
Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri.
oleh Dewi "Dee" Lestari
Kamu tahu, ini salah satu prosa favorit saya dari karya-karya yang dihasilkan Dee.
Haha, akhirnya selamat ulang tahun, Biq. Barakallahu fii umrik.
Jembatan Zaman
Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segala.
Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Namun masih ingatkah ia dengan sepetak tanah mungil waktu masih kerdil dulu? Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan kereta raksasa dan setetes embun seolah bola kaca dari surga, tatkala ia tak peduli akan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik?
Waktu kecil dulu, kupu-kupu masih sering hinggap di pucuknya. Kini burung besar bahkan bersangkar di ketiaknya, kawanan kelelawar menggantungi buahnya. Namun jangan sekali-kali ia merendahkan kupu-kupu yang hanya menggeliat di tapaknya, karena mendengar bahasanya pun ia tak mampu lagi.
Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu.
Dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil atau yang digejolakkan anak belasan tahun seiring dengan kecepatan zaman yang melesat meninggalkan? Karena kita tumbuh ke atas tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahaman yang tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.
Jembatan yang rendah hati, bukan kesombongan diri.
oleh Dewi "Dee" Lestari
Kamu tahu, ini salah satu prosa favorit saya dari karya-karya yang dihasilkan Dee.
Haha, akhirnya selamat ulang tahun, Biq. Barakallahu fii umrik.
Langganan:
Postingan (Atom)